• Rapat Kerja Nasional Korps Menwa Indonesia
  • Rakernas Korps Menwa Indonesia diadakan pada 14-16 Agustus 2015 bertempat di Cipayung - Bogor

  • Sepeda Santai Keluarga Mahawarman IPB
  • Gowes sepeda santai Keluarga Mahawarman IPB di Kampus IPB Darmaga Bogor tgl 22 Mei 2016

    Photo Session Temu Alumni

    Dokumentasi foto Alumni dan Keluarga yang hadir pada Temu Alumni Korps Menwa IPB di Kebun Raya Bogor 1 Agustus 2015

    Demo ketangkasan bongkar pasang Senapan SS1

    Demo ketangkasan bongkar pasang senjata Senapan SS1 dalam Masa perkenalam Mahasiswa Baru (MPKMB)Diploma IPB tgl 29 Agustus 2015 di Kampus IPB Baranangsiang - Bogor.

    Terbentuknya Keluarga Mahawarman IPB

    Pada Rapat Korps tanggal 15 Mei 2016 telah disepakati terbentuknya organisasi "Keluarga Mahawarman IPB" sebagai wadah persatuan dan silaturahmi seluruh alumni Mahawarman IPB

    Jumat, 25 Desember 2015

    Secawan Renungan di Hari Ibu...

    Penulis : Arifah Handayani (Alumni Menwa IPB '95, Founder Smart Parenting With Love Community)

    Aku ini hanya ingin menjadi seorang ibu yang boleh menolak hidup di dalam kotak, karena bumi kita ini sudah sedemikian sempit dihuni lebih dari 7 milyar manusia. Rasanya terlalu mungil untuk mengakomodasi begitu banyak golongan dengan 1001 perbedaannya. Apalagi kalau harus dibagi kepada lebih dari satu Pencipta.

    Aku hanya ingin semua penduduk bumi bisa hidup bersisian mengandalkan kesamaan visi dan misi saja. Mestinya semua insan mampu hidup lebih optimal bersama, tanpa harus membuang banyak waktu, sumberdaya dan tenaga demi memperdebatkan perbedaan yang jelas tidak akan sampai pada titik temu.

    Rabu, 23 Desember 2015

    REVOLUSI PENDIDIKAN (BAGIAN-1): KURIKULUM DAN GURU SERTA ELIT BANGSA

    Oleh : Raden Ridwan Hasan Saputra (Penulis Alumni Menwa IPB, Pendiri dan Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), juga pelatih Olimpiade Matematika Internasional)  

    Bogorplus.com – Ketika saya mendampingi siswa dalam lomba matematika di Hongkong, para peserta mendapat kesempatan untuk berwisata ke Ocean Park Hongkong, yang merupakan wahana permainan air dan taman bermain. Di dalam Ocean Park untuk mencoba suatu wahana maka orang-orang harus mengantri terlebih dahulu. Pada saat mengantri, di depan saya ada orang Indonesia yang mengantri yang bisa saya ketahui dari logat daerahnya ketika dia berkomunikasi, tetapi tidak lama kemudian dia menyerobot antrian. Kontan hal itu pun membuat banyak orang yang mengantri kesal dan agak ribut.  Saya sempat menegur dengan sikapnya tersebut karena selain tidak bagus juga memalukan Indonesia, tapi orang tersebut hanya senyum-senyum saja. Saya jadi ingat, banyak prilaku orang di Indonesia yang sudah dianggap wajar tetapi sebenarnya salah. Perilaku tersebut seperti motor atau mobil tetap berjalan walaupun lampu lalu lintas sudah menunjukan warna merah, membuang sampah sembarangan baik di jalan ataupun di sungai, merokok di sembarang tempat, mencontek,  dan lain-lain.

    Hal- hal tersebut sepertinya sepele tetapi akan berdampak besar jika dilakukan terus menerus. Seperti dengan tidak mentaati rambu lalu lintas bisa menyebabkan kemacetan, efek dari kemacetan menyebabkan banyak orang yang terlambat bekerja dan terjadi pemborosan bahan bakar. Buang sampah sembarangan di jalan atau di sungai bisa menyebabkan banjir di jalan raya beraspal yang bisa menyebabkan aspal cepat rusak, dan jika sungai mampat karena banyak sampah bisa menyebabkan banjir di suatu lingkungan. Banyak masalah besar atau musibah besar yang terjadi akibat perilaku salah yang dianggap sepele atau kecil. Seharusnya pendidikan Indonesia mengajarkan kepada siswanya tentang mentaati peraturan lalu lintas, buang sampah pada tempatnya, mengantri dll. Sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik, karena terhindar dari musibah akibat sikap dan prilaku  masyarakat yang tidak disiplin.


    Perubahan  kurikulum sebaik apapun tidak akan berhasil jika gurunya tidak diubah
    Saat ini pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih disibukkan dengan perubahan kurikulum. Berita terakhir akan ada kurikulum baru yang bernama Kurikulum Nasional sebagai pengganti kurikulum 2013. Pertanyaan yang mendasar saat ini, di Indonesia sering terjadi perubahan kurikulum tetapi kenapa hal-hal negatif (seperti kasus-kasus yang ceritakan di awal) dalam kehidupan sehari-hari baik dilakukan  pelajar atau masyarakat yang notabene sebelumnya adalah pelajar masih saja terjadi?. Jawabannya menurut saya  karena perubahan kurikulum di Indonesia ibarat perubahan sebuah mobil yang hanya berganti model lampu, berganti ban atau berganti accesories yang lain, tetapi karoserinya dan mesinnya tetap sama. Belum pernah terjadi perubahan dari bentuk mobilnya secara keseluruhan atau berganti pabrik karoserinya. Walaupun terjadi perubahan mobil secara radikal tidak menjamin akan membuat sampai tujuan dengan selamat jika supirnya ternyata tidak bisa mengemudikan mobil tersebut dengan baik. Maknanya adalah  sebagus apa pun perubahan kurikulum pendidikan, jika gurunya tidak diperbaiki maka tujuan kurikulum yang bagus sangat sulit dicapai.

    Uji Kompetensi Guru dalam hal moralitas dan spiritual jangan dilupakan
    Saat ini Uji Kompetensi Guru yang sedang dilakukan oleh Pemerintah, patut untuk dihargai sebagai program yang tepat dalam rangka memperbaiki kualitas guru, tetapi uji yang dilakukan saat ini masih pada tataran yang bersifat akademik, sehingga  kemampuan guru  yang terukur masih dalam hal kemampuan intelektual. Pemerintah jangan sampai lupa kalau di sekolah, tugas guru itu bukan hanya transfer pengetahuan tetapi yang jauh lebih penting adalah mendidik yang didalamnya ada tujuan mengubah dari perilaku yang tidak baik menjadi baik, dari awalnya tidak sholeh menjadi sholeh. Supaya proses mendidik bisa berjalan efektif maka guru harus mempunyai kecerdasan moral dan kecerdasan spiritual yang baik, karena guru di sini harus bisa digugu dan ditiru. Oleh karena itu pemerintah harus juga membuat program untuk memperbaiki moralitas dan spiritualitas para guru agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Program ini jauh lebih penting dilakukan daripada perbaikan kurikulum, dan program ini harus segera dilakukan karena guru yang moral dan spiritualnya rendah akan menghasil  perilaku negatif para siswa baik di sekolah maupun di masyarakat seperti yang sudah terjadi secara masif di seluruh Indonesia.

    Jangan malu mengadopsi Pendidikan Pesantren
    Saat ini banyak orang kembali melirik pendidikan pesantren sebagai alternatif untuk pendidikan anak-anaknya.   Dibalik kekurangan dan kelebihan dari pendidikan pesantren, ada hal yang menarik dari pendidikan pesantren. Hal menariknya yaitu para guru di Pesantren biasanya mengajar dengan ikhlas walaupun penghasilan atau gajinya sebagai guru tidak besar. Jarang kita mendengar bahkan hampir tidak pernah kita dengar ada guru-guru  di pesantren yang demo untuk meminta kenaikan gaji atau tunjangan. Selain itu guru-guru di pesantren biasanya menjadi contoh terlebih dahulu dalam kebaikan khususnya dalam masalah adab dan akhlak.  Hal yang tidak kalah penting guru-guru di pesantren dan kepala sekolahnya (kyainya) rajin melaksanakan berbagai aktivitas ibadah seperti berpuasa, sholat tahajud dll, serta rajin mendoakan santri-satrinya agar menjadi anak-anak yang sholeh. Sikap dan perilaku seperti itulah yang membuat para santrinya sangat patuh dan menjadikan guru-guru dan kyainya sebagai panutan (digugu dan ditiru). Ketaatan santri kepada para gurunya merupakan kunci keberhasilan dari pendidikan pesantren dalam hal membentuk adab dan akhlak yang baik.  

    Bukanlah hal yang tabu jika pemerintah mengadopsi cara-cara pesantren dalam membentuk guru-guru sehingga menjadi guru-guru yang bisa digugu dan ditiru oleh murid-muridnya. Sebab guru-guru yang bisa digugu dan ditiru adalah faktor yang sangat penting dalam pendidikan. Tahapan awal adalah membentuk guru bagus dalam hal sepiritual. Supaya  guru bagus dalam hal spiritualnya adalah  dengan membuat program meningkatkan kebiasaan aktivitas ibadah ritual. Bagi yang beragama islam, guru harus terbiasa sholat berjamaah, sholat dhuha, puasa senin kamis dll. Bagi yang beragama lain dipersilahkan menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Program ini awalnya  dibuat dalam bentuk gerakan, kemudian dilakukan pemaksaan yang dituangkan dalam bentuk peraturan. Pada akhirnya harus dilakukan pemaksaan karena program ini sangat menunjang keberhasilan proses pendidikan.

    Setelah program pertama sudah berjalan maka tahapan berikutnya adalah program guru-guru memberikan contoh dan menjadi contoh dari pelaksanaan budi pekerti yang baik. Program ini harus dilakukan oleh semua guru. Bentuk program ini seperti tidak merokok di lingkungan sekolah, menghormati sesama  guru baik di sekolahnya atau bukan di sekolahnya, membuang sampah pada tempatnya,  belajar mengantri, mentaati peraturan lalu lintas dll. Program ini pun sama, awalnya sebuah gerakan kemudian pemaksaan yang dituangkan dalam peraturan. Dua program ini jika dilaksanakana dengan efektif melalui peraturan yang jelas dimana ada hadiah dan hukuman, maka akan membuat pendidikan Indonesia jauh lebih baik. Inilah Revolusi Mental  yang sesungguhnya.  Jika guru tidak menyetujui kedua program ini sebaiknya mengundurkan diri jadi guru, karena memang tidak layak secara moral dan spiritual sebagai guru.

    Para Guru Perlu sosok panutan yang bisa digugu dan ditiru
    Dua Program ini akan berhasil dengan baik jika para guru mempunyai contoh manusia yang bisa menjadi panutan. Sosok Panutan untuk para guru seharusnya Kepala Sekolah. Para kepala Sekolah pun perlu sosok yang bisa menjadi panutan. Sosok panutan untuk para kepala sekolah seharusnya Kepala Dinas Pendidikan kota/Kabupaten. Kemudian sosok panutan untuk Kepala Dinas Pendidikan kota/Kabupaten adalah para Walikota/Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi serta para Dirjen di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Para pejabat ini pun perlu sosok panutan dalam hal moralitas dan spiritualitas. Sosok panutan untuk para pejabat ini tentulah para Elit Bangsa yang ada di Pemerintah Pusat. Sayangnya para elit Bangsa kita saat ini suka membuat gaduh sehingga situasi negara menjadi panas. Efeknya saat ini para guru di Indonesia sulit menemukan sosok elit  di tingkat nasional, yang bisa digugu dan ditiru dalam hal moralitas dan spiritualitas. Untungnya masih ada orang-orang baik di berbagai daerah yang karyanya bermanfaat bagi masyarakat yang bisa dijadikan panutan para guru. Hanya sayangnya karena orang-orang baik ini hanya di tingkat lokal sehingga perbaikannya tidak bersifat masif dan berdampak secara nasional. Semoga orang-orang baik di tingkat lokal ini bisa menjadi elit bangsa di tingkat nasional, menggantikan para elit bangsa yang suka membuat gaduh negara. Semoga dengan hal ini, perbaikan pendidikan yang revolusioner bisa diwujudkan.

    Penutup
    Tulisan ini adalah buah pikiran dalam rangka memperbaiki Pendidikan di Indonesia. Negara yang besar adalah negara yang fokus meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya (SDM). Kualitas SDM akan baik jika kualitas pendidikannya baik. Kualitas pendidikan akan baik jika kualitas gurunya akan baik. Hal yang lebih utama dalam kualitas guru adalah memperbaiki kualitas moral dan spiritualnya. Kualitas moral dan spiritual guru dipengaruhi juga oleh Kualitas moral dan spiritual para elit bangsa negeri ini. Jika para elit bangsa di negeri ini selalu gaduh, maka jargon bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar sepertinya hanya akan jadi mimpi. Beruntungnya masih ada orang-orang baik di negeri ini yang perduli terhadap pendidikan dan berkarya di bidang pendidikan sehingga guru tidak kehilangan panutan. Semoga Allah mendatangkan sosok elit di tingkat nasional yang bisa menjadi panutan dalam hal moralitas dan spiritualitas bagi bangsa ini. Aamiin.

    Bogor, 21 Desember 2015

    Sumber : 
    http://www.bogorplus.com/index.php/topik-bogor/item/9797-revolusi-pendidikan-bagian-1-kurikulum-dan-guru-serta-elit-bangsa

    Selasa, 15 Desember 2015

    MAU KEMANAKAH NEGARA INDONESIA ?

    Oleh : Raden Ridwan Hasan Saputra
    (Penulis adalah Alumni Menwa IPB, Pendiri dan Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), juga pelatih Olimpiade Matematika Internasional)

    Bogorplus.com – Saat ini publik di Indonesia sedang disibukkan oleh kasus Freeport. Awal mulanya diberitakan adanya kasus pencatutan nama Presiden dan wakil Presiden yang dianggap telah meminta saham untuk melanggengkan keinginan Freeport untuk tetap beroperasi di Indonesia. Kemudian kasus ini berkembang seperti bola liar dengan adanya dugaan kecurangan dalam Pemilihan Presiden berdasarkan rekaman yang diperdengarkan dalam sidang Mahkamah Kehormatan Dewan. Belum juga selesai masalah tersebut, timbul lagi isu baru, kalau sebenarnya pemerintah sudah memberikan kepastian

    Kamis, 10 Desember 2015

    ANAK-ANAK INDONESIA MULAI BANYAK YANG LUPA SEJARAH

    Oleh : Raden Ridwan Hasan Saputra
    (Penulis adalah Alumni Menwa IPB, Pendiri dan Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), juga pelatih Olimpiade Matematika Internasional)

    Bogorplus.com – Saat menghadiri perlombaan dan Launching Permainan Matematika Bela Negara (PMBN) di Surabaya pada Tanggal 10 November 2015, yang diadakan di wilayah Kodam V Brawijaya dengan Pelaksana Korem 084/Bhaskara Jaya, saya dan Bapak Jendral Purnawirawan Agustadi Sasongko diminta menyaksikan langsung acara semi final dan Final dari lomba PMBN.  Pada lomba PMBN ini para peserta akan mendapatkan pertanyaan sesuai dengan pilihannya dari hasil dadu yang mereka mainkan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berhubungan dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Sejarah Perjuangan Bangsa dan Bela Negara.

    Selasa, 27 Oktober 2015

    STRATEGI MENYELESAIKAN BENCANA KABUT ASAP MENURUT MANUSIA PANCASILA


    Oleh : Raden Ridwan Hasan Saputra 
    Penulis adalah Wakil Ketua Korps Menwa IPB, Pendiri dan Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), juga pelatih Olimpiade Matematika Internasional.
     
    Bogorplus.com – Dalam sebuah kisah di jaman Nabi Musa AS, kaum Bani Israil pernah di timpa musim  kemarau panjang dan masa paceklik. Sehingga kaum Bani Israil meminta kepada Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan. Nabi Musa setelah mendapat permintaan tersebut, kemudian mengajak kaum Bani Israil  ke lapangan dan melakukan doa bersama. Ternyata doa Nabi Musa untuk  meminta hujan tidak dikabulkan oleh Allah. Menurut petunjuk yang Allah berikan kepada Nabi Musa, hal ini karena ada umat Nabi Musa yang mempunyai dosa selama 40 tahun dan belum mau bertobat. Singkat cerita setelah orang yang berdosa tersebut bertobat akhirnya hujan turun dengan derasnya.

    Senin, 05 Oktober 2015

    Refleksi HUT TNI Ke 70 : “MENGHITUNG" APAKAH TNI DICINTAI RAKYAT ?


    Penulis : Raden Ridwan Hasan Saputra
    Penulis adalah Alumni Menwa IPB, Pendiri dan Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), juga pelatih Olimpiade Matematika Internasional.

    Bogorplus.com – Pertanyaan ini tentu saja menggelitik bagi TNI juga bagi masyarakat yang peduli dengan TNI, tetapi jawaban dari pertanyaan ini bukan hanya menggelitik tapi bisa hal yang sangat serius bagi TNI. Jawaban dari pertanyaan ini bisa dilakukan dengan cara survey yaitu  mewawancarai para responden tentang masalah kecintaan mereka terhadap TNI.  Saya mencoba mencari jawaban dari pertanyaan ini dengan menggunakan Matematika Tanpa Angka. Walaupun jawabannya mungkin tidak akurat tetapi jawaban ini akan menjadi bahan perenungan bagi TNI.

    Kamis, 01 Oktober 2015

    “SEKOLAH DASAR” BUKAN LAGI “TAMAN” TETAPI BERPOTENSI MENJADI “HUTAN RIMBA”


    “SEKOLAH DASAR” BUKAN LAGI “TAMAN” TETAPI BERPOTENSI MENJADI “HUTAN RIMBA”

     Oleh : Raden Ridwan Hasan Saputra
    Penulis adalah Wakil Ketua Korps Menwa IPB, Pendiri dan Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM) dan pelatih Olimpiade Matematika Internasional.

    Bogorplus.com – Ada sebuah berita sangat memprihatinkan berdasarkan berita dari Detiknews (28/9/2015). Diberitakan seorang siswi dari Aceh Besar yang masih duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah meninggal dunia akibat dikeroyok oleh 6 orang teman laki-lakinya. Kejadian ini sulit diterima oleh akal sehat bagi kita yang pernah bersekolah SD di era tahun 80-an ke bawah. Kejadian-kejadian yang sudah dalam kategori tidak wajar dalam hal yang negatif sudah banyak terjadi di kalangan anak SD saat ini, seperti pembunuhan, pencabulan, narkoba, tawuran dll. Sudah jadi bukti  nyata bahwa Sekolah Dasar saat ini banyak yang sudah bukan menjadi taman tempat anak-anak bermain, seperti yang diisyaratkan oleh Ki Hajar Dewantara. Sekolah Dasar saat ini seperti hutan rimba, dimana anak bisa belajar hal-hal yang negatif dari mulai bahasa yang kasar dan tindakan yang brutal, yang akhirnya bahasa dan tindakan tersebut  bisa  menjadikan anak sebagai pemangsa atau dimangsa oleh anak yang lain.

    Kita tidak bisa bayangkan hal negatif apa  yang akan mereka lakukan ketika mereka di SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan setelah menjadi orang tua. Sebab hal-hal negatif  yang mereka lakukan di waktu SD sama sekali tidak pernah terbayangkan akan dilakukan oleh anak SD. Oleh karena itu harus dicari penyebab dan diberikan solusi agar kejadian-kejadian negatif tersebut tidak terjadi lagi. Berikut ini saya sampaikan penyebab dan solusi dari masalah di atas berdasarkan pengalaman, pengamatan dan perenungan yang saya lakukan sebagai orang yang sering berkecimpung di dunia SD khususnya dalam bidang Matematika.

    Pendidikan di Indonesia saat ini lebih fokus pada Pengetahuan (Ilmu) bukan Adab atau Budi Pekerti
    Ketika saya di bangku Sekolah Dasar, Hal yang lebih sering dipelajari di kelas oleh murid-murid adalah bagaimana seorang murid menghormati  guru, berbuat baik dengan teman, memelihara kebersihan, mengantri dll yang lebih pada pembentukan budi pekerti. Saya masih ingat ketika di SD, sebelum masuk kelas harus berbaris terlebih dahulu di luar kelas, kemudian masuk satu persatu ke dalam kelas dan mencium tangan guru. Setiap minggu ibu guru atau bapak guru selalu memeriksa kuku-kuku siswanya dan banyak anak yang tangannya dipukul menggunakan penggaris karena lupa menggunting kuku. Pada waktu itu banyak anak  SD yang ketika masuk SD  tidak bisa membaca dan menulis. Sekolah SD pada waktu itu, mempunyai tempat yang luas untuk bermain berbagai aneka macam permainan. Sehingga dalam pemikiran saya waktu itu, ke sekolah adalah untuk bermain bersama teman-teman, belajar adalah nomor dua. Pada masa itu pun, ibu guru atau bapak guru lebih suka anak yang mempunyai budi pekerti  yang baik dan lebih disukai lagi  anak  yang mempunya budi pekerti yang baik dan rajin belajar.  Sehingga kami sebagai muridnya berlomba-lomba untuk menjadi anak yang mempunyai budi pekerti yang baik dan rajin belajar setelah bermain seharian penuh.

    Pada masa sekarang ilmu lebih penting dari pada adab atau budi pekerti. Siswa SD saat ini sudah disibukkan dengan mengikuti berbagai kursus dari mulai kursus matematika, kursus bahasa inggris, kursus musik dll. Kegiatan anak-anak SD saat ini kebanyakan hanya belajar, belajar dan belajar. Jika ada waktu bermain, yang dilakukan adalah bermain game  komputer atau online. Jarang sekali bermain yang dilakukan dengan cara berinterakasi, bersenda gurau dengan teman sebayanya.  Saat ini banyak orang tua yang menganggap teman anaknya adalah saingan anaknya dalam meraih prestasi.  Sehingga interaksi yang terjadi sudah tidak dalam pertemanan tetapi persaingan. Kondisi ini membuat anak lupa sopan santun, tata krama dan budi pekerti. Solusi yang dilakukan adalah merubah kurikulum pendidikan nasional untuk Sekolah Dasar, yang awalnya lebih pada target penguasaan ilmu menjadi target internalisasi adab atau budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Di Sekolah Dasar lebih banyak praktek penerapakan budi pekerti yang baik daripada belajar materi pelajaran matematika, komputer, IPA dan bahasa asing. Oleh karena itu, di SD tidak boleh ada anak yang tidak naik kelas selama anak tersebut mempunyai adab atau budi pekerti yang baik.

    Mayoritas kualitas Guru SD masih memprihatinkan
     Saya adalah Pelatih Nasional Olimpiade Matematika untuk SD dan SMP. Jabatan ini telah membuat saya mempunyai tugas tambahan yaitu melatih guru tentang matematika khususnya di tingkat SD. Sudah belasan ribu guru dari berbagai wilayah di Indoenesia yang saya latih dalam kurun waktu  12 tahun. Banyak hal yang memprihatinkan tentang guru-guru SD saat ini berdasarkan pengalaman saya melatih. Hal yang memprihatinkan ini dari sisi kecerdasan intelektualnya, motivasinya menjadi guru dan mentalnya sebagai seorang guru. keprihatinan saya ini, sebagian sudah terbukti sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh Direktur Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Sumarna Surapranata, sebagaimana yang diberitakan situs kemdikbud.go.id (9/10/2015). Beliau menyampaikan pemerintah telah memiliki potret Uji Kompetensi Guru (UKG) terhadap 1,6 juta guru. Dari jumlah tersebut menurut beliau, hanya 192 orang yang kompetensinya di atas 90 dan rata-rata nilai UKG nya 4,7. Berdasarakan informasi tersebut kondisi guru Indonesia sangat memprihatinkan dan hampir dipastikan kualitas terparah ada di guru SD. Sehingga sangatlah wajar jika semakin hari kualitas dan prilaku anak-anak SD semakin banyak yang tidak karuan, karena kualitas guru-guru yang kategorinya memprihatinkan dan banyak tersebar di seluruh indonesia.

    Solusi yang harus dilakukan menurut saya adalah dengan memfokuskan pembinaan mental, budi pekerti dan penanaman keimanan sesuai agama masing-masing kepada guru-guru SD yang ada saat ini. Hal ini agar guru-guru SD bisa mempunyai motivasi yang baik dalam menjalankan profesinya sebagai guru dan bisa mempunyai mental yang cocok sebagai seorang guru. Perubahan motivasi dan perilaku guru dalam mengajar akan sangat mendukung proses internalisasi adab dan budi pekerti kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu secara bertahap pemerintah harus mengganti guru-guru yang mulai pensiun dengan orang-orang muda potensial yang bukan lulusan nonkependidikan yang mempunyai kemampuan yang bagus. Orang-orang muda potensial ini harus diutamakan untuk mengajar di daerah (3T) Terdepan, Terluar dan Tertinggal. Guru-guru potensial yang mengajar di daerah (3T) harus diberi gaji yang sangat memadai dan jauh lebih besar dari guru-guru biasanya.

    Pengaruh “sinetron-sinetron” (tayangan) TV yang merusak generasi muda
    Pendapat ini tentulah akan disetujui oleh banyak pihak, karena tayangan TV selama ini terutama sinetron-sinetronya telah memberi andil  yang sangat besar dalam kerusakan moral anak bangsa. Saat ini para pemilik TV banyak mengejar rating demi mengumpulkan banyak keuntungan materi walaupun harus mengorbankan generasi muda. Tayangan-tayangan yang kurang baik di TV membentuk suatu kebiasaan baru dan akhirnya budaya baru yang tidak baik di masyarakat yang sebelumnya tidak ada. Budaya buruk ini menjadi suatu karakter bagi anak-anak yang belum mempunyai filter yang kuat untuk memilih hal yang baik atau yang buruk.

    Solusi yang saya diberikan pemerintah harus melakukan pengawasan ketat terhadap tayangan TV di Indonesia dan langsung menghentikan ijin TV-TV yang melakukan siaran yang melanggar aturan yang berlaku. Pemerintah tidak perlu mengkhawatirkan akan berkurangnya pemasukan dari pajak yang biasa diberikan oleh perusahaan-perusahaan yang mengelola TV, karena pemerintah bisa memberikan ijin baru kepada perusahaan TV yang mau mengikuti aturan pemerintah. Sudah saatnya pemerintah memiliki stasiun TV yang tidak hanya TVRI. Pemerintah bisa membuat stasiun TV – Stasiun TV yang menjangkau segmen pasar yang berbeda tetapi mempunyai misi yang sama yaitu menjadikan Tontonan sebagai Tuntunan. Selain media TV pemerintah juga harus memperhatikan media online yang sudah begitu mudah di akses langsung dalam genggaman tangan anak-anak melalui gadget.

    Orang tua masih ada yang kurang peduli dengan pendidikan
    Saat ini banyak orang tua yang menganggap dengan mensekolahkan anaknya ke sekolah favorit dan beranggapan berarti urusan pendidikan sudah selesai. Kebanyakan orang tua juga ingin anaknya diperlakukan dengan baik, tidak boleh dimarahi dan tidak boleh dihukum. Sehingga tidak jarang ketika guru memarahi murid, yang terjadi adalah orang tua datang ke sekolah dan memarahi balik guru. Hal ini menyebabkan sekolah menjadi  kehilangan ruhnya sebagai  lembaga pendidikan. Jika orang tua peduli pendidikan maka orang tua harus mendukung pihak sekolah dan guru ketika guru memberi hukuman kepada anaknya. Di jaman saya dulu ketika ada anak dimarahi guru, kemudian orang tuanya tahu, biasanya yang terjadi adalah orang tua tersebut memarahi anaknya dan orang tua tersebut datang ke sekolah untuk meminta maaf kepada guru. Kejadian terbalik pada saat ini bisa jadi karena mulai kurang wibawa guru dikarenakan kualitas guru saat ini seperti yang saya ceritakan sebelumnya.

    Solusi yang saya tawarkan untuk masalah ini adalah membuat program dimana  orang tua mengajar di kelas atau masuk ke dalam kelas untuk membantu guru mengajar di kelas. Hal ini agar orang tua paham betapa sulitnya menjadi guru sehingga timbul rasa hormat orang tua kepada guru. Hal ini pun akan memotivasi guru untuk terus meningkatkan kemampuannya agar bisa menjadi guru yang disegani oleh orang tua dan muridnya, karena punya banyak ilmu dan adab yang baik. Program ini sangat mungkin diterapkan di tingkat sekolah Dasar.

    Pengaruh para “oknum pejabat” yang mempertontonkan hal yang kurang mendidik
    Di era keterbukaan informasi saat ini, hampir setiap hari masyarakat disuguhkan oleh tayangan di TV atau media sosial dimana para pejabat saling mencaci dan saling menyalahkan ketika menghadapi suatu masalah. Perilaku-perilaku yang tidak baik dari para pejabat yang tidak korupsi pun banyak diekspos. Sehingga banyak orang berpikir tenyata berbicara kasar atau berperilaku tidak baik asal tidak korupsi jauh lebih baik dan akan menjadi orang sukses. Cara berpikir seperti ini sudah mulai tertanan di kalangan generasi muda, sampai ke level anak SD. Sehingga tidak jarang kita mendengar anak-anak SD sudah terbiasa dengan bahasa-bahasa kasar dan perilaku negatif yang seperti telah diceritakan sebelumnya.

    Solusi yang saya berikan, sebaiknya seseorang yang akan menjadi pejabat publik seperti kepala daerah dan anggota Dewan harus mengikuti penataran sejenis P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) jaman dahulu. Setelah itu mereka harus lulus screening dan pemeriksaan fisik seperti halnya orang-orang yang ingin masuk tentara atau polisi. Hal ini perlu dilakukan jika kita ingin mempunyai generasi muda yang terpelihara mental, sikap dan perilakunya. Di alam demokrasi, memang manusia bebas melakukan apa saja, tetapi di negara yang berdasarkan pancasila kebebasan itu ada batasnya. Jangan sampai kebebasan mengorbankan masa depan bangsa.

    Penutup        
    Membuat Sekolah Dasar kembali menjadi "Taman" perlu dukungan semua pihak. Dimulai dari guru, lingkungan sekolah, orang tua siswa dan pemerintah. Belum ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan jika kita mulai dari sekarang. Jika tidak ada aksi nyata maka sekolah-sekolah dasar yang ada saat ini mayoritas akan menjadi hutan rimba belantara yang menghasilkan raja rimba yang memakan banyak korban. Sehingga kita hanya tinggal menunggu antrian kejadian-kejadian yang memilukan yang belum terjadi sebelumnya ketika kita duduk di bangku sekolah dasar.

    Bogor, 29 September 2015.

    Sumber : Bogor+